19
Feb
10

KISAH RAJA SILAHISABUNGAN DENGAN RAJA PARULTEP , RAJA PAKPAK

RAJA SILAHI SABUNGAN DAN SILALAHI NABOLAK, sumber : Memory Raja Silahi Sabungan , Tumaras, J.Sihaloho

PERTEMUAN SILAHISABUNGAN DENGAN RAJA PARULTEP , RAJA PAKPAK
Silahi sabungan pun pergi mandi, dibersihkan badan dengan jeruk purut (maranggir). Badan yang penat kembali segar bugar. Selesai mandi ia pun berkemas dan pergi. Silahisabungan meneruskan perjalanannya menuju utara dan tiba diatas bukit Simandar, dilihatnya ke bawah terdapat danau yang sangat luas dan dipantai baratnya nampak hamparan tanah yang datar. Kemudian dipandangnya arah ke Balige tidak nampak lagi apa-apa karena dihalangi dolok Pusukbuhit dan pulau Samosir. Ia turun kebawah melalui lereng Laksabunga, dan ia tanah yang terhampar adalah tanah yang subur. Karena asap api di Balige tidak mungkin lagi terlihat maka Silahi sabungan berkenan tinggal disitu, yang kemudian daerah itu dinamai SILALAHI NABOLAK.

Di Silalahi Nabolak, Silahisabungan lalu membangun pondok tempat tinggalnya. Ia membuat bubu untuk perangkap ikan disungai. Setiap hari Silahi sabungan mambaca dan mempelajari isi Laklak Tumbaga Holing. Silahi sabungan menemukan ilmu kesaktian yang dapat berlayar di atas air dengan sehelai daun pohon sumpit. Kemudian ilmu Silompit Dalan ( ilmu yang mempercepat perjalanan ), Ilmu Hadatuon serta hasiat benda-benda yang ia terima sewaktu bersemedi.

1. Piso Lipat adalah alat membelah jeruk purut untuk menyembuhkan segala penyakit buatan manusia.
2. Piso Tumbuk Lada adalah alat menyembuhkan segala penyakit yang dibuat mahluk halus.
3. Piso Halasan adalah alat kerajaan dan alat memukul mundur musuh diwaktu perang.
4. Piso Sigurdung Sidua Baba adalah alat yang paling tinggi memusnahkan musuh dan melindungi diri dari segala marabahaya.
5. Siorlombing Sadopa adalah alat serba guna yang dapat dipakai sebagai tongkat petunjuk jalan kehidupan dan sebagai busur yang dapat mematikan lawan.

Dengan sebuah daun sumpit ( bulung sumpit ) Silahi Sabungan pergi berlayar menyusuri danau yang sangat luas itu, yang sekarang dinamai Danau Silalahi ( bhs. Batak : Tao Silalahi ).

RAJA SILAHI SABUNGAN DAN RAJA PARULTEP, RAJA PAKPAK

Setelah berbulan-bulan lamanya Silahi Sabungan menetap di Silalahi Nabolak , ia dikejutkan dengan suatu peristiwa yang membawa berkah bagi hidupnya. Seorang raja Pakpak bernama Raja Parultep, tengah berburu (menyumpit) burung di hutan Simarnasar diatas Silalahi Nabolak. Sewaktu Raja Parultop menyumpit seekor burung elang (Lali), paha burung itu kena namun burung itu tidak sampai mati. Burung elang itu kembali terbang. Raja Parultop mengejar, tetapi begitu didekati burung itu kembali terbang. Demikianlah berulang-ulang, akhirnya Raja Parultep tiba Silalahi Nabolak.

Sewaktu Raja Parultep mengejar sampai jauh ke hutan belantara Silalahi Nabolak, burung elang itu terbang menuju pulau Samosir – melintasi Danau Silalahi yang sangat luas. Burung elang itu merasa tidak sanggup terbang sampai ke Pulau Samosir, lalu burung itupun kembali ke pantai Danau Silalahi dan hinggap dekat pondokan Silahi sabungan. Burung elang dengan mudah ditangkap oleh Silahisabungan, karena sudah lelah. Raja Parultop yang memperhatikan burung elang itu kembali dan hinggap dipantai Danau Silalahi, dia bertekat akan menangkap burung elang itu hidup atau mati, walaupun hari sudah senja. Raja Parultep segera menuruni bukit Silalahi dan terus mencari kemana hinggapnya burung elang itu.

Raja Parultep terheranheran melihat seorang pemuda duduk diatas pondok sambil memengang burung elang yang disumpitnya. Dengan geram dan marah Raja Parultep berkata : “ Hei, siapa kamu yang berani tinggal ditanah milikku ini ? Aku adalah Raja Pakpak yang berkuasa sampai ke pantai danau ini. Kemarikan burung elang yang kau pegang itu, kau harus dihukum dan diusir dari tempat ini, “ katanya.

Silahisabungan menduduki seonggok tanah yang dibawa dari Balige dan mengambil air yang dibawa dari Mual Sigutti, lalu dengan sopan santun dan penuh wibawa, ia menjawab : “ Raja Pakpak yang mulia, saya tidak bersalah, ucapan raja yang mengada-ngada. Saya berani sumpah, bahwa tanah yang saya duduki ini adalah tanahku dan air yang saya minum ini adalah airku, “ lalu Silahisabungan meneguk air dari kendi ( tabu-tabu ) yang dibawanya dari Mual Sigutti. Silahi sabungan lalu turun dan memberi salam ke Raja Parultep dengan hormat dan memperkenalkan diri.

Mendengar ucapan Silahi sabungan dan tutur katanya yang menawan, amarah Raja Parultep jadi hilang dan menjawab dengan ramah : “ Goarmu sude jolma baua mamboan, goarhu pe denggan mapaboaon, I ma ulaulangku ari-ari marga Padangbatangari na domu tu marga Pasaribu “, katanya. (namamu sebagaimana laki-laki, baiklah aku juga akan memeritahukan namaku yaitu sama seperti apa yang kulakukan setiap hari – berburu dengan sumpit ( bhs. Pakpak : parultep ) marga Padang batangari, sepadan dengan Pasaribu ).

Kemudian Silahisabungan berkata :” Horas ma tulang,ai inongku pe boru Pasaribu do ”, ( horas Tulang, ibuku juga boru Pasaribu ) sambil mempersilahkan Raja Parultep naik ke pondokannya karena hari sudah mulai gelap. Ajakan Silahi sabungan dengan senang hati diterimanya dan mereka dapat bercengkrama sampai larut malam. Dalam percakapan mereka Raja Parultop menanyakan keberadaan keluarga Silahisabungan. Dijawabnya bahwa ia belum beristeri. Mendengar tutur kata Silahi sabungan nan sopan lagi santun, diam-diam Raja menaruh simpati dan ingin bermenantukan Silahi sabungan, Raja Parultep lalu berkata : “ Aku mempuyai putri 7 orang, kesemuanya sudah anak gadis. Jikalau kau berkenan menjadi menantuku besok kita pergi ke Balla. Pilihlah salah satu putriku untuk menjadi istrimu, dengan syarat tidak boleh dimadu ( na so marimbang ) sepanjang hidupmu “. Mendengar ajakan raja, Silahi sabungan menyambut dengan senang hati. Lalu Silahisabungan menjawab : “ Mana mungkin saya berani ke Balla jikalau tidak memenuhi adat istiadat, sedang aku hanya sebatangkara. Kumohon , Pamanlah membawa paribanku itu kemari, supaya disini aku pilih “.

Alasan Silahi sabungan masuk akal Raja Parultep, akhirnya menerima permintaan Silahi sabungan. Kemudian mereka menetapkan hari dan tanggal pertemuan sekaligus perkawinannya, lalu mereka sama-sama minta tidur karena sudah lelah sepanjang hari. Silahi sabungan tidak dapat tidur semalam-malaman memikirkan dan membayangkan putri Raja Parultep. Bagaimana cara memilihnya jikalau benar ada 7 orang putri raja. Diam-diam Silahisabungan membuka Laklak Tumbaga Holing, untuk melihat petunjuk. Dalam petunjuk terlihat putri raja hanya satu, lalu mengapa dikatakan 7 orang ?

Rupanya Raja Parultep pun tidak tidur sepanjang malam itu. Dengan berpura-pura tidur, Raja Parultep mengintip gerak-gerik Silahisabungan. Diketahuilah bahwa Silahi sabungan adalah orang sakti, bukan sembarang orang. Keesokanharinya Silahi sabungan memberangkatkan Raja Parultep pulanng ke Balla dengan oleh-oleh ikan Batak. Silahisabungan berkata : ” Jikalau rombongan Paman datang terlebih dahulu, nyalakan api diatas bukit sana dan kemudian akan saya nyalakan api dibawah ini tanda saya sudah siap menyambut Paman “. Setelah sepakat akan perjanjian mereka, Raja Parultep lalu pulang ke Balla dengan membawa banyak oleh-oleh Ikan Batak.


0 Responses to “KISAH RAJA SILAHISABUNGAN DENGAN RAJA PARULTEP , RAJA PAKPAK”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: