07
Jan
10

Tambun Raja atau Siraja Tambun

Tambun Raja atau Siraja Tambun :  satu sosok, dua gelar

Apul Rudolf Silalahi,s note :

Tanpa bertendensi mencari perhatian dan berharap simpati, sebelumnya penulis memohon maaf yang setulus-tulusnya kepada semua kalangan terutama keturunan Tambun Raja, dimana tanpa seizin dan terlebih dahulu memberitahukan Anggidoli sekalian, berani menuliskan cerita (turi-turian) ini dan menerbitkannya di grup atau kelompok ini.

Hal yang menjadi dasar pemikiran dan melatarbelakangi keberanian penulis dalam mengungkapkan ini adalah semata-mata disebabkan banyaknya kesimpang-siuran yang penulis lihat yang tertuang dan menjadi konsumsi orang banyak, seringnya peng-atas nama-an sang raja oleh oknum-oknum tertentu dengan maksud-maksud tertentu pula yang mana bagi penulis sudah membias dan menciptakan penyimpangan dari keadaan yang sebenarnya yang penulis pahami dan yakini . Sekaligus juga melalui tulisan singkat ini, penulis berharap semua pihak dapat menyadari letak persoalan yang sebenarnya, dimana tidak ada perbedaan antara pihak yang satu dengan lainnya dalam memandang sosok Tambun Raja / Siraja Tambun, terlebih lagi tidak melibatkan sang raja dalam polemic yang jelas-jelas tidak akan pernah berkesudahan, hanya demi membuat sebuah penegasan seolah-olah seseorang atau sebuah kelompok dapat mewakili kebesaran dan kemegahan sang raja beserta seluruh keturunannya.

TAMBUN RAJA DI SILALAHI NABOLAK

Singkat cerita sebagaimana diketahui melalui banyak kisah dan penuturan yang ada dalam berbagai versi yang intinya menyebutkan bahwa seorang anak laki-laki terlahir di Sibisa dari pasangan Raja Silahi Sabungan dan Milingiling boru Mangarerak yang kemudian dibawa oleh Raja Silahi Sabungan kembali ke daerah asalnya, Silalahi Nabolak,  meninggalkan ibunya karena situasi yang mengharuskan demikian. Kemudian anak laki-laki itu diberikan nama “Tambun”  dan tumbuh akil-balik bersama saudara-saudaranya di Silalahi Nabolak.  Selama di Silalahi Nabolak  tidak dapat dipungkiri bahwa memanglah sering terjadi pertengkaran antara Tambun dan saudara-saudaranya, yang mana akibat pertengkaran tersebut Tambun menyadari satu hal, yaitu sudah saatnya bagi dia untuk mengetahui cerita tentang dirinya yang sebenarnya.  Setelah mengetahui hal yang sebenarnya, lalu Tambun bertekad bahwa dia harus mencari dan menemui ibu kandungnya ke Sibisa. Hal ini tidak dapat dihalangi oleh seluruh keluarga besar Raja Silahi Sabungan , dimana disebutkan bahwa satu-satunya saudara perempuannya (sasada ibotona) pun sampai kehilangan nyawa demi mencegah kepergian Tambun dari Silalahi Nabolak.  Sebelum Tambun meninggalkan kampung halamannya untuk pergi dan mencari keberadaan ibu yang melahirkannya (pangintubu-na), Raja Silahi Sabungan mengumpulkan ke-delapan (8) anaknya dengan membuat sebuah upacara adat berupa penyampaian nasehat dan petuah yang harus ditaati oleh kedelapan anaknya beserta seluruh keturunannya kelak di kemudian hari. Upacara tersebut kemudian dinamakan Poda Sagu-Sagu Marlangan, sekaligus Raja  Silahi Sabungan menganugerahkan gelar raja ke masing-masing anaknya, yaitu : LOHO RAJA, TUNGKIR RAJA, SONDI RAJA, BUTAR RAJA, BARIBA RAJA, DEBANG RAJA, BATU RAJA dan TAMBUN RAJA, kemudian secara bersama mengikrarkan dan memahami serta berjanji mentaati semua isi dari Poda Sagu-Sagu Marlangan tersebut.. Oleh karena itu di kampung asalnya (Silalahi Nabolak), Tambun selalu disebutkan dengan TAMBUN RAJA dan Keturunannya (pomparanni) TAMBUN RAJA, sebagaimana tertulis di Poda Sagu-Sagu Marlangan demikian juga di Tugu/Makam Raja Silahi Sabungan. Dan sampai saat ini hal tersebut tidak pernah menjadi masalah ataupun dipersoalkan, dimana setiap keturunan Tambun Raja yang datang berkunjung ke Silalahi Nabolak bahkan saat diadakannya Pesta Tugu, hingga diberlakukan setiap tahun, mereka selalu memahami penyebutan TAMBUN RAJA tersebut dan meng-amin-kannya (em ma tutu).

Selanjutnya Tambun Raja melakukan perjalanan dengan semua kesulitan dan kesukaran yang secara tegar dihadapi dan berhasil dilaluinya, hingga dia sampai di Sibisa dan bertemu muka dengan pangintubu-nya beserta seluruh keluarga besar tulangnya, Manurung.  Sebagaimana juga banyak dikisahkan melalui cerita dalam berbagai versi yang intinya menyatakan kemudian Tambun Raja menikahi pariban-nya, yaitu putri Manurung dan menetap di negeri Sibisa. Di Sibisa, Tamun Raja diangkat dan dianugerahi gelar rajadengan memberikan penyebutan SIRAJA TAMBUN, selanjutnya berketurunan di Toba Holbung dan sekitarnya. Oleh karena itu setiap marga-marga dan semua penghuni dan yang bermukim di Toba Holbung dan sekitarnya selalu memanggil dan menyebut TAMBUN dan keturunannya dengan sebutan Siraja Tambun dan keturunan Siraja Tambun.

Perlu penulis ungkapkan bahwa tradisi kekerabatan dan protokoler per-adat-an di wilayah Toba Holbung (porsea, laguboti, balige) memiliki perbedaan dengan yang ada dan berlaku di wilayah Samosir dan sekitarnya. Contoh perbedaan itu yang paling jelas kelihatan dan nyata adalah :

1. Penyematan gelar di wilayah Samosir dan sekitarnya umumnya diletakkan dibelakang nama, seperti : Sariburaja, Lohoraja, Muntetua dsb; sementara di wilayah Toba Holbung gelar diletakkan di depan nama, seperti : Raja Pangaribuan, Raja Parmahan, Tuan Dibangarna dsb; maka dari itu selanjutnya dan secara turun temurun Tambun Raja turut disebut menjadi Raja Tambun.

2. Kekerabatan di wilayah Samosir dan sekitarnya sangatlah teguh, dimana ada ketentuan tidak boleh saling kawin mengawini antara keturunan yang masih satu leluhur, contoh : Parna, Silahisabungan, Bor-bor dsb; sebaliknya di wilayah Toba Holbung sangat jamak ditemukan peristiwa saling kawin mengawini meskipun berasal dari satu leluhur, seperti : keturunan Toga Aritonang : Simaremare, Rajagukguk, Ompusunggu ; keturunan Tuan Somanimbil, antara : Siahaan, Simanjuntak, Hutagaol; Keturunan Nairasaon antara Sitorus, Manurung, Sirait, Butar-Butar, dsb.

Mengantisipasi hal seperti inilah,  salah satunya oleh Raja Silahi Sabungan dibuatkan Poda Sagu-Sagu Marlangan tersebut. Perbedaan ini perlu penulis ungkapkan demi memberi pengertian kepada mereka-mereka yang dalam keterbatasan wawasan dan kepolosan berpikir.

Perlu diketahui bahwa yang melakukan “padan raja” antara Tampubolon (pomparan Tuan Sihubil) dengan Raja Parmahan “Silalahi” (pomparan Raja Silahi Sabungan) di Balige. Diluar kedua klan tersebut, kalaupun ada “dengan alasan” kekerabatan, maka kemudian beberapa cabang marga keturunan Raja Silahi Sabungan turut mengikuti dan tunduk “padan raja” tersebut – dengan mengatakan “hahang” kepada Tampubolon -bahwa itu merupakan hal yang baik dan patut dicontoh, namun demikian tidaklah dapat dijadikan alasan untuk menggugat keturunan Raja Silahis Sbungan lainnya (diluar Raja Parmahan) untuk tidak mengikuti dan tunduk kepada padan tersebut.

Di Toba Holbung sendiri, keturunan Raja Silahi Sabungan – dari marga Tambun dan Tambunan – sudah jamak saling kawin-mengawini dengan pomparan Tampubolon. Dan ini tidak menyalahi padan sama sekali, karena seperti saya katakan bahwa padan raja tersebut hanya berlaku antara Raja Parmahan “Silalahi” dan Tampubolon, serta keturunan mereka. Sama juga seperti  Manurung sebagai hula-hula Tambun Raja. Namun kenyataan di Toba Holbung telah terjadi dimana Manurung berhula-hula ke keturunan Raja Silahi Sabungan.

Keterkaitan Tambun Raja ( serta keturunannya ) dengan Raja Parmahan “Silalahi” (serta keturunannya ) dalam semua situasi adat di wilayah Toba Holbung. Bahkan lebih dari itu dapatlah dikatakan kedua cabang keturunan Raja Silahi Sabungan tersebut saling menjaga kekerabatan dan saling menguatkan posisi satu dengan lainnya di wilayah dimana mereka adalah pendatang.

Sebagaimana juga diriwayatkan melalui berbagai turi-turian berdasarkan banyaknya versi, bahwa antara keturunan Tambun Raja dan keturunan Raja Parmahan “Silalahi” selalu saling tolong-menolong dan selalu menggunakan musyawarah setiap ada persoalan yang terjadi. Yang paling jelas adalah pengulangan kembali Poda Sagu-Sagu Marlangan antara kedua pihak yang dilakukan untuk menyelesaikan persoalan yang saat itu mengemuka. Dan kesepakatan yang mengharuskan keturunan Raja Parmahan “Silalahi”  kembali menggunakan marga Silalahi dan keturunan Tambun Raja kembali menggunakan marga Tambun ataupun Tambunan. PENUTUP Kesimpulan dari penuturan ini adalah bahwa Tambun Raja dan keturunannya adalah sosok yang sama meskipun dia disebutkan Siraja Tambun oleh saudara-saudaranya dan keturunan mereka yang berasal dari kampung asalnya Silalahi Nabolak, disebutkan juga Siraja Tambun oleh semua keturunannya dan segenap marga yang ada di wilayah yang dimukiminya di Toba Holbung. Hal ini bukanlah sebuah persoalan atau permasalahan yang perlu mendapatkan perhatian untuk mendapatkan penyelesaian. Tidak ada usaha penggantian nama atau mengubah nama dalam setiap penyebutan TAMBUN RAJA ataupun SIRAJA TAMBUN, karena sang raja memiliki nama lahir TAMBUN. Apalagi sampai mendramatisirnya seolah-olah hal tersebut adalah sesuatu yang mengerikan dan membahayakan. Perlu untuk kita semua memiliki kesatuan tekad untuk mengupayakan agar penyebutan TAMBUN RAJA ataupun SIRAJA TAMBUN tidak menimbulkan perpecahan di tengah-tengah keluarga besar keturunan Tambun Raja, bukan malah menciptakan persoalan seolah-olah keturunan Tambun Raja  dan keturunan Siraja Tambun adalah berbeda satu dengan lainnya. Terutama hal ini saya tujukan bagi keturunan abang-abangnya, dengan segala hormat saya mintakan kita untuk tidak memecah-belah dan membawa mereka terlibat kedalam setiap persoalan yang kita hadapi. Karena bagaimanapun persoalan yang ada ditengah-tengah mereka merupakan kewajiban kita untuk mendamaikannya. Dan sampai sejauh ini saya tidak melihat kita mampu dan bertindak untuk meredam persoalan yang ada ditengah-tengah keluarga besar keturunan Tambun Raja, untuk itu janganlah kita menciptakannya.

“Molo so boi padamehon unang ma pabadahon”. Akhir kata penulis menyadari bahwa tulisan ini jauh dari sempurna, dan masih memberikan banyak peluang untuk di-debat kusir-kan dan dipertanyakan. Untuk itu penulis mohon maaf, dan berharap semoga catatan ini bermanfaat untuk menggambarkan situasi yang sebenarnya dan untuk setiap gugatan yang akan ada penulis tidak akan menanggapinya demi menghindari polemik berkepanjangan. Hal ini sesuai dengan tujuan dan keinginan penulis yang mana menuliskan catatan ini untuk mampu mencegah dan menjadi sebuah peringatan bagi setiap orang dan setiap pihak yang mencoba-coba dengan segala cara dan demi keuntungan diri dan kelompoknya menyeret serta dan menciptakan dualisme dalam keluarga besar TAMBUN.

met-met ahu on, paias rohangkon sasada Ho Jesus donganhu tong-tong Lippo Cikarang, 09-January-2010 Apul Rudolf Silalahi


0 Responses to “Tambun Raja atau Siraja Tambun”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: