02
Mar
10

MARGA-MARGA KETURUNAN RAJA SILAHI SABUNGAN

Menurut urutannya , marga-marga keturunan Raja Silahisabungan saat ini adalah sebagai berikut :

  1. Sihaloho
  2. Situngkir / Sipangkar / Sipayung
  3. Rumasondi / Rumasingap / Silalahi-Sihaloho / Silalahi-Sinabutar / Silalahi-Sinagiro / Silalahi-Sinabang / Nadapdap / Silalahi-Sinurat / Nadapdap / Doloksaribu
  4. Sidabutar
  5. Sidabariba
  6. Sidebang
  7. Pintubatu / Sigiro
  8. Tambun / Tambunan

Selain itu, di Tanah Karo , beberapa keturunan dari marga diatas berafiliasi dengan marga Sembiring, yaitu Pandia, Sinupayung, Keloko, Sinupangkar, Sinulaki dan lainnya. Sedangkan di Sipirok , konon marga Daulay adalah keturunan marga Tambunan.

Meski demikian, saat ini diperantauan sangat jamak dijumpai yang memakai marga Silalahi meski berasal dari ke delapan (8) kelompok marga-marga diatas. Namun demikian , dalam partuturan ( hubungan status kekerabatan ) mereka akan saling memahami dan dapat memposisikan diri (parhundul).

PARTUTURAN

Secara umum, status hububungan kekerabatan dalam adat dan istiadat keturunan Raja Silahisabungan dipahami (otomatis) sesuai urutan asal marga keturunannnya.

Contohnya :

  1. Sihaloho, sebagai marga paling sulung, maka akan memanggil ADIK atau AMANGUDA kepada marga-marga lainnya. Sebaliknya, marga-marga lain akan memanggil ABANG atau AMANGTUA kepada Sihaloho.
  2. Situngkir / Sipangkar / Sipayung akan memanggil ADIK atau AMANGUDA kepada marga-marga sesusi urutan dibawahnya dan memnaggil ABANG atau AMANGTUA kepada marga Sihaloho.
  3. Dan seterusnya.
  4. Untuk panggilan kaum pria kepada kaum wanita, keturunan Raja Silahisabungan memanggil Iboto (Ito) atau Namboru untuk lebih hormat.
  5. Antara marga-marga keturunan Raja Silahisabungan keseluruhan tidak boleh (dilarang) untuk saling kawin-mengawini dan sampai saat ini ketentuan ini masih berlaku secara turun-temurun.
02
Mar
10

KEBERADAAN MARGA SILALAHI DI TOLPING / PANGURURAN

Bius (negeri)  Tolping yang terdapat di negeri Ambarita dikuasai oleh campuran berbagai marga ( Suhut ni huta ) , di antaranya :

  • Raja Bona ni Ari, dipangku marga Sihaloho
  • Raja Pande Nabolon, dipangku marga Silalahi
  • Raja Panuturi, dipangku marga Silalahi
  • Raja Panullang, dipangku marga Sigiro
  • Raja Bulangan, dipangku Marga Sidabutar (Nai Ambaton )
  • Raja Pangkombari, dipangku marga Siallagan

Keberadaan marga Silalahi di Tolping  diawali dari Siraja Tolping , yaitu keturunan Toguraja Sihaloho dan keturunan Raja Partada dari Pangururan. Raja Partada ialah anak dari Debang Raja yang  meninggalkan Silalahi Nabolak dan merantau ke Panguruan dan menamai dirinya Ompu Sinabang alias Ompu Lahisabungan.  Sampai saat ini, makam / tambak Ompu Lahisabungan ada di Dolok Parmasan ( tanah pekuburan ) di Pangururan , Samosir. Keturunan Raja Partada kemudian memakai Silalahi. Namun kemudian pasca MUBES keturunan Raja Silahi Sabungan di Silalahi Nabolak 1968, kelompok marga Silalahi atas nama utusan dari Tolping dan Pangururan menolak Tarombo Raja Silahi Sabungan dengan 2 Istri dan 8 Anak. Kelompok ini bersikukuh bahwa istri Raja Silahi Sabungan adalah 3 dan mereka adalah keturunannya. Karena dianggap ngawur, mereka kemudian diusir dai Silalahi Nabolak. Alhasil, mereka kemudian eksis menamai marga mereka Silalahi Raja dan sampai saat ini tetap menolak eksistensi tarombo Raja Silahi Sabungan , Silalahi Nabolak. Meski demikian, keturunan Raja Silahisabungan di Silalahi Nabolak tetap menganggap mereka ( kelompok Silalahi Raja ) sebagai keturunan Raja Silahi Sabungan , keturunan Sihalaho dan Ompu Lahisabungan alias Bursok Raja bin Debang Raja. Namun umumnya, kelompok Silalahi Raja enggan mengakuinya dan malah memilih eksis tersendiri (terpisah) dari keturunan Raja Slahisabungan lainnya.

Di Pangururan Samosir, keberadaan marga Silalahi termasuk dalam kategori marga pendatang. Hal ini terlihat jelas dari posisi marga Silalahi sebagai Raja Boru diantara marga Raja Tanah (Partano Golat) atau marga Suhut ni huta di negeri Bius Pangururan yang disebut Sitolu Hae Horbo , yaitu  :

  1. Marga Naibaho
  2. Marga Sitanggang
  3. Marga Simbolon

Dari marga tanah ( suhut ni huta ) inilah kemudian terbentuk Raja Partali dari cabang tiap – tiap marga atau marga pendatang yang menjadi bagian marga Suhut ni huta , misalnya :

  1. Dari marga Naibaho, dibentuk Raja Partali Naibaho Siahaan, Hutaparik, Sitangkaraen, Sidauruk, dan Siagian.
  2. Dari Marga Sitanggang, dibentuk Raja Partali Sitanggang, Sigalingging, Malau, dan Sinurat.
  3. Dari Marga simbolon, dibentuk Raja Partali Simbolon, Tamba, Nadeak, dan Silalahi.

Fakta hubungan sosial marga Silalahi dengan marga Simbolon di Bius Pangururan juga memposisikan rendahnya tingkat marga Silalahi di Bius Pangururan, hal ini  karena marga Silalahi adalah pendatang di Bius Pangururan da kemudian menjadi Boru dari Simbolontuan saja, ini artinya tidak semua marga Simbolon memiliki hubungan kekerabatan (tutur) Boru kepada marga Silalahi di Pangururan.

02
Mar
10

8 RAJA TURPUK PUTRA RAJA SILAHI SABUNGAN

RAJA SILAHI SABUNGAN, salah seorang putra Sorbani Banua lahir dan besar Lumban Gorat Balige (Toba) dan tinggal Silalahi Nabolak (Dairi) sampai pada akhir hayatnya. Raja Silahi Sabungan terkenal seorang “Datu Bolon“ dan termansyur akan kesaktiaanya. Banyak cerita turun-temurun (turi-turian) mengenai kehebatan Raja Silahi Sabungan yang terdapat pada keturunan Tuan Sorbani Banua maupun marga-marga lain. Setelah mengadakan Horja Bius di Silalahi Nabolak, untuk menetapkan tanah kepunyaannya kepada para keturunanya dan Silahi Sabungan sebagai Raja Bius. Silahi Sabungan kemudian panggil dengan Raja Silahi Sabungan. Silahi Sabungan telah memiliki keturunan yang banyak dan sebagai Raja (Kepala Kaum) ia telah menetapkan tanah miliknya untuk semua keturunannya.

HORJA BIUS SILALAHI NABOLAK

Horja Bius adalah perhelatan sosial tertinggi dalam kultur suku Toba. Horja Bius hanya dilakukan oleh orang yang memiliki martabat Status sosial, kapasitas dan intregitas. Horja Bius Silalahi Nabolak menggambarkan posisi Raja Silahi Sabungan di Silalahi Nabolak. Meski dalam masa kolonialis Belanda mewariskan admistratif bahwa Silalahi Nabolak masuk dalam teritori Dairi, bukan berarti bahwa Raja Silahi Sabungan sebagai orang Pakpak Dairi atau bukan orang yang berasal dari Suku Toba. Sebagaimana kakak-adik sekandungnya, Sibagotni pohan, Siraja Oloan, Sipaittua, yang terlahir dan besar di Toba, Balige. Sebagai Raja Bius yang bermartabat , Raja Silahi Sabungan telah mewariskan kultur budaya dan tanah-air bagi keturunanya. Sehingga keturunannya memiliki martabat, garis keturunan dan negeri asal yang jelas. Hal ini adalah kebiasaan yang dilakukan marga-marga lain suku Toba.

MUAL SIPAULAK HOSA (TURI-TURIAN)

Salah satu dari turi-turian itu adalah Kisah terjadinya sumber air (pancuran) Mual Sipaulak Hosa di lereng bukit Silalahi Nabolak (Dairi). Pada suatu hari Silahi Sabungan pergi bersama istrinya, Pinggan Matio boru Padang Batangari, ke mertuanya di huta (kampung) Balla, Pakpak.. Sewaktu melewati lereng bukit, isterinya yang sudah hamil tua mulai merasa dahaga. Rasa penat mulai terasa, sehingga mereka harus melepas lelah dilereng bukit. Dengan menahan rasa haus dan lelah, Pinggan Matio bersenandung lirih : “ Loja ma boruadi mamboan tua sian mulajadi, mauas ma tolonan ndang adong mangubati. Jonok do berengon sillumalan na so dundungonki. Boha do parsahatku tu huta ni damang parsinuan, dainang pangintubu i.” Mendengar senandung istrinya, Silahi Sabungan lalu mengambil Siorlombing (tombak), lalu berdoa kepada Mulajadi Nabolon agar diberikan air. Kemudian Silahi Sabungan menancapkan Siorlombing (tombak) ke dinding batu tebing dan air menyembur dengan deras. Pinggan Matio lalu diminum sepuas-puasnya. Sampai saat ini, air itu dinamai ”Mual Sipaulak hosa” yang terdapat dilereng bukit Silalahi Nabolak.

1] LOHO RAJA (KETURUNANNYA MEMAKAI MARGA SIHALOHO)

Melihat kondisi kehamilan Pingganmatio, Raja Parultep (ayah Pinggan Matio) lalu menyarankan supaya putrinya tinggal di Balla sampai kelahiran anaknya. Tiba waktunya melahirkan, Pinggan Matio melahirkan seorang anak Laki-laki. Silahi Sabungan merasa gembira dan bersyukur karena dia sudah menjadi seorang ayah. Begitu juga Raja Parultep merasa berbahagia karena kelahiran cucu dari putrinya Pinggan Matio. Raja Parultep mengundang raja-raja kampung dan penduduk Balla untuk merayakan kelahiran cucunya. Kemudian Raja Parultep memberi nama cucunya si Loho, artinya lega. Kemudian dikenal dengan Loho Raja, putra sulung Raja SilahiSabungan. Keturunannya kemudian memakai marga Sihaloho.

2] TUNGKIR RAJA (KETURUNANYA MEMAKAI MARGA SITUNGKIR, SIPANGKAR DAN SIPAYUNG )

Suatu ketika, Raja Parultep merasa kangen dengan putri dan cucunya. Raja Parultep kemudian pergi ke kampung Lahi (sekarang menjadi Silalahi Nabolak) untuk melihat (tungkir=tingkir). Setibanya disana, tiba waktunya Pinggan Matio melahirkan putranya yang ke dua. Raja Parultep kemudian memberinya nama Tungkir Raja. Di Silalahi Nabolak, keturunan Tungkir Raja kemudian memakai marga Situngkir. Namun keturunan Situngkir di Parbaba Samosir kemudian menurunkan marga keturunannya , yaitu marga Sipangkar dan Sipayung. Keturunan Sipayung yang merantau ke Simalungun tetap memamaik marga Sipayung sebagai marga. Tetapi berbeda di Tanah Karo, Keturunan Sipangkar dan Sipayung kemudian berafiliasi dengan merga Sembiring, yaitu Sembiring Sinupangkar dan Sinupayung. Tetapi belakangan ada juga keturunan Silalahi dan Sihaloho yang kemudian menjadi Sembiring Sinulaki dan Keloko.

3] SONDI RAJA (KETURUNANNYA MEMAKAI MARGA RUMA SONDI, RUMASINGAP, SILALAHI, SIHALOHO, SINABUTAR, SINABANG, SINAGIRO, NAIBORHU, NADAPDAP, SINURAT, DOLOK SARIBU )

Pada suatu ketika Silahi Sabungan sedang membuat tempat tidur dari kayu bulat (sondi). Tiba waktunya Pinggan Matio melahirkan putranya yang ke tiga. Silahi Sabungan kemudian memberinya nama Sondi Raja. Dari keturunan Sondi Raja terlahir marga Rumasondi dan Rumasingap. Dari keturunan Rumasondi adalah Bolon Raja dan Raja Parmahan . Dari keturunanan Raja Parmahan yang kemudian dikenal memakai marga Silalahi di Hinalang Silalahi , Balige. Dari Keturunan Raja Parmahan Silalahi kemudian menurunkan marga : Sihaloho, Sinagiro, Sinabang, Sinabutar, Naiborhu, Sinurat, Nadapdap dan Dolok Saribu. Namun kemudian diantara mereka dianjurkan memakai marga Silalahi, sesuai marga leluhur mereka.

DEANG NAMORA

Hati Pinggan Matio yang gundah gulana diperhatikan Raja Silahi Sabungan, lalu ia pergi bersemedi kegua Batu diatas Huta Lahi. Dia memohon kepada Mulajadi Nabolon agar mereka diberikan seorang anak perempuan. Idaman Pinggan Matio dan perrmohonan Raja Silahi Sabungan dikabulkan Mulajadi Nabolon.Pinggan Matio melahirkan anak keempat seorang perempuan, lalu ia berkata : “ Nunga Gabe jala mamora ahu, hubahen ma goar ni borunta on Deang Namora,” ( Sudah bahagia dan kaya aku, kuberikan nama Puteri kita Deang Namora = Putri nan kaya) katanya kepada Raja Silahi Sabungan dengan bahagia. Raja Silahi Sabungan juga merasa bahagia karena permintaannya terkabulkan. Namun sang putri Deang Namora konon meninggal saat usia muda dan tidak sempat memiliki keturunan.

4] BUTAR RAJA ( KETURUNANNYA MEMAKAI MARGA SIDABUTAR ).

 Kemudian Pinggan Matio melahirkan anak kelima, seorang anak laki – laki. Pada waktu kelahiran anak kelima ini, raja Silahisabungan baru mengganti atap rumah yang terbuat dari kayu butar. Oleh karena itu mereka membuat nama anak kelima ini Butar Raja. Dari keturunanan Butar Raja ialah Ruma Bolon, Ruma Biak dan Ruma Tungkup. Keturunannya sekarang ini memakai marga Sidabutar

5] DABARIBA RAJA ( KETURUNANNYA MEMAKAI MARGA SIDABARIBA )

Pada waktu kelahiran anak keenam, Raja Silahi Sabungan sedang berada di Parbaba Samosir untuk mencari tanah kosong. Setelah Raja Silahisabungan kembali dari seberang (bariba) dijumpainya telah lahir seorang anak laki-laki. Karena ia baru tiba dari Bariba (seberang) maka diberilah nama anak itu Bariba Raja. Keturunanan Sidabariba adalah Lumban Toruan, Lumban Tonga-tonga dan Lumban Dolok. Keturunan Dabariba Raja memakai marga Sidabariba

6] DEBANG RAJA ( KETURUNANYA MEMAKAI MARGA SIDEBANG )

Kelahiran anak Raja Silahisabungan yang ketujuh ditandai dengan terjadinya peristiwa alam. Pada saat Pinggan Matio melahirkan, turun hujan lebat sehingga terjadi tenah longsor ( tano bongbong ) di Silalahi Nabolak. Karena Tano Bongbong ( Tanah Longsor ) itu mengejutkan Raja Silahi Sabungan dan Pinggan Matio, maka mereka membuat nama anak laki – laki yang baru lahir itu Debong Raja = Debang Raja. Keturunannya ialah Siari, Sitaon, Sisidung yang memakai marga Sidebang.

 7] BATU RAJA (KETURUNANNYA MEMAKAI MARGA PINTUBATU, SIGIRO).

Anak Raja Silahisabungan yang kedelapan bernama Batu Raja atau Pintu Batu. Pada waktu kelahiran anak bungsu Pinggan Matio ini, Raja Silahi Sabungan sedang bersemedi di Gua batu di lereng bukit Silalahi. Saat melahirkan itu, Pinggan Matio merasa lelah karena faktor usia, sehingga mengerang minta bantuan. Loho Raja yang melihat ibunya mengerang pergi mamanggil Raja Silahi Sabungan. Raja Silahi Sabungan buat obat salusu ( obat penambah tenaga ), Boru Pinggan Matio melahirkan seorang anak laki – laki. Karena Silahi Sabungan dipanggil dari Gua Batu maka diberilah nama anak itu Batu Raja atau Pintu Batu. Dengan kelahiran Batu Raja maka anak Raja Silahi Sabungan dari Pinggan Matio boru Padang Batanghari berjumlah delapan orang, tujuh orang anak laki-laki dan seorang puteri. Keturunan Batu Raja (Pintu Batu) ialah Lumban Pea, Huta Balian dan Sigiro. Umumnya mereka memakai marga Pintu Batu atau Sigiro dan Silalahi.

8] TAMBUN RAJA ( KETURUNANNYA MEMAKAI MARGA TAMBUN DAN TAMBUNAN )

Turi-turiannya, Raja Silahi Sabungan tengah melanglang buana ke negeri Sibisa, negeri Raja Magarerak. Raja Mangarerak tengah gundah kerena putri tersayangnya tengah mengalami sakit teluh yang sedemikian parah. Ketika Raja Silahi Sabungan datang, ia kemudian diminta mengobati Sang Putri Milingiling, putri Raja Mangarerak. Raja Silahi Sabungan bersedia dengan satu syarat, jika kelak sembuh maka raja Silahi Sabungan akan mengawininya sebagai istri. Tanpa pikir panjang, Raja Mangarerak menyetujuinya. Raja Silahi Sabungan ternyata berhasil menyembuhkan Sang Putri, sesuai kesepakatan maka Raja Silahi Sabungan kemudian memperistri Sang Putri, meski sebenarnya telah terpaut usia yang cukup jauh. Konon juga, Sang Putri memanggil Raja Silahi Sabungan dengan sebutan Amangboru, hal ini dikarenakan kessenjangan usia tersebut. Ketika Sang Putri tengah mengandung, prahara terjadi dan Raja Mangarerak meminta supaya Raja Silahi Sabungan segera meninggalkan negeri Sibisa. Dengan berat hati, Raja Silahi Sabungan menyepakati namun menunggu sampai Sang Putri melahirkan. Setelah melahirkan, Raja Silahi Sabungan kemudian memboyong sang bayi dan pergi meninggalkan Sibisa, kembali ke Silalahi Nabolak. Di Silalahi Nabolak, sang anak kemudian diberi nama Tambun Raja. Pada usia menjelang dewasa, Tambun Raja kemudian kembali menemui sang Ibu yang melahirkannya dan sang Tulang (paman) di Sibisa. Tambun Raja kemudian menetap dan tinggal di Sigotom Sibisa dan menikahi putri paman-nya Boru Manurung. Oleh keturunannya ia kemudian di panggil dengan Siraja Tambun. Keturunannya ialah Tambun Mulia, Tambun Saribu,Tambun Marbun dan keturunnaya kemudian memakai marga Tambun. Pada generasi ini, baik keturunan Tambun Mulia, Tambun Saribu, Tambun Marbun, keturunan mereka memakai marga Tambun sampai hari ini. Tambun Mulia kemudian memiliki 2 anak, yaitu : Tambun Uluan and Tambun Holing. Disebut Tambun Uluan karena ia tinggal di Uluan. Keturunannya sampai hari ini tetap memakai marga Tambun sebagai marga keturunannya. Tambun Holing kemudian membuka lahan pemukiman untuk didiami dan menamakannya Huta Tambunan. Disini, Tambun Holing memiliki 3 anak, yaitu : Raja Pangaraji, Tuan Ujung Sunge dan Datu Tambunan Toba. Sekarang ini, Tambunan juga terbagi dalam 3 Wilayah , yaitu desa Tambunan Lumban Pea, desa Tambunan Lumban Gaol dan Desa Tambunan Baruara. Ketiga desa inilah Desa Tambunan, di tepi Danau Toba. Masing-masing keturunan mereka tetap menggunakan marga Tambunan. Konon, salah satu keturunan Tambunan Raja Pagar Aji – bernama Mata Sopiak- kemudian merantau ke Angkola-Mandailing dan berganti marga menjadi Daulay di sana. Datu Tambunan Toba kemudian memiliki 3 orang anak, yaitu : Raja Baruara , Lumban Pea and Lumban Gaol. Dari keturunan ke 3 anak Datu Tambunan Toba inilah kemudian terlahir marga Tambunan Baruara, Tambunan Lumbanpea dan Tambunan Lumbangaol, namun umumnya mereka memakai marga Tambunan saja. Jadi sangat jelas diketahui bahwa marga Tambunan adalah merupakan marga turunan dari marga Tambun.

Kedelapan (8) anak Raja Silahi Sabungan ini sering juga disebut 8 Raja Turpuk. Disebut Raja Turpuk karena masing-masing telah memiliki cabang marga-marga keturunannya. Raja Silahi Sabungan kemudian mengikat kedelapan anaknya dengan sebuah permufakatan yang dikenal dengan sebutan Pada Sagu-sagu Marlangan (PSSM) sampai hari ini. Dan sampai kapanpun, PSSM akan terus diwariskan kepada semua keturunan Raja Silahi Sabungan.

19
Feb
10

KISAH RAJA SILAHISABUNGAN DENGAN RAJA PARULTEP , RAJA PAKPAK

RAJA SILAHI SABUNGAN DAN SILALAHI NABOLAK, sumber : Memory Raja Silahi Sabungan , Tumaras, J.Sihaloho

PERTEMUAN SILAHISABUNGAN DENGAN RAJA PARULTEP , RAJA PAKPAK
Silahi sabungan pun pergi mandi, dibersihkan badan dengan jeruk purut (maranggir). Badan yang penat kembali segar bugar. Selesai mandi ia pun berkemas dan pergi. Silahisabungan meneruskan perjalanannya menuju utara dan tiba diatas bukit Simandar, dilihatnya ke bawah terdapat danau yang sangat luas dan dipantai baratnya nampak hamparan tanah yang datar. Kemudian dipandangnya arah ke Balige tidak nampak lagi apa-apa karena dihalangi dolok Pusukbuhit dan pulau Samosir. Ia turun kebawah melalui lereng Laksabunga, dan ia tanah yang terhampar adalah tanah yang subur. Karena asap api di Balige tidak mungkin lagi terlihat maka Silahi sabungan berkenan tinggal disitu, yang kemudian daerah itu dinamai SILALAHI NABOLAK.

Di Silalahi Nabolak, Silahisabungan lalu membangun pondok tempat tinggalnya. Ia membuat bubu untuk perangkap ikan disungai. Setiap hari Silahi sabungan mambaca dan mempelajari isi Laklak Tumbaga Holing. Silahi sabungan menemukan ilmu kesaktian yang dapat berlayar di atas air dengan sehelai daun pohon sumpit. Kemudian ilmu Silompit Dalan ( ilmu yang mempercepat perjalanan ), Ilmu Hadatuon serta hasiat benda-benda yang ia terima sewaktu bersemedi.

1. Piso Lipat adalah alat membelah jeruk purut untuk menyembuhkan segala penyakit buatan manusia.
2. Piso Tumbuk Lada adalah alat menyembuhkan segala penyakit yang dibuat mahluk halus.
3. Piso Halasan adalah alat kerajaan dan alat memukul mundur musuh diwaktu perang.
4. Piso Sigurdung Sidua Baba adalah alat yang paling tinggi memusnahkan musuh dan melindungi diri dari segala marabahaya.
5. Siorlombing Sadopa adalah alat serba guna yang dapat dipakai sebagai tongkat petunjuk jalan kehidupan dan sebagai busur yang dapat mematikan lawan.

Dengan sebuah daun sumpit ( bulung sumpit ) Silahi Sabungan pergi berlayar menyusuri danau yang sangat luas itu, yang sekarang dinamai Danau Silalahi ( bhs. Batak : Tao Silalahi ).

RAJA SILAHI SABUNGAN DAN RAJA PARULTEP, RAJA PAKPAK

Setelah berbulan-bulan lamanya Silahi Sabungan menetap di Silalahi Nabolak , ia dikejutkan dengan suatu peristiwa yang membawa berkah bagi hidupnya. Seorang raja Pakpak bernama Raja Parultep, tengah berburu (menyumpit) burung di hutan Simarnasar diatas Silalahi Nabolak. Sewaktu Raja Parultop menyumpit seekor burung elang (Lali), paha burung itu kena namun burung itu tidak sampai mati. Burung elang itu kembali terbang. Raja Parultop mengejar, tetapi begitu didekati burung itu kembali terbang. Demikianlah berulang-ulang, akhirnya Raja Parultep tiba Silalahi Nabolak.

Sewaktu Raja Parultep mengejar sampai jauh ke hutan belantara Silalahi Nabolak, burung elang itu terbang menuju pulau Samosir – melintasi Danau Silalahi yang sangat luas. Burung elang itu merasa tidak sanggup terbang sampai ke Pulau Samosir, lalu burung itupun kembali ke pantai Danau Silalahi dan hinggap dekat pondokan Silahi sabungan. Burung elang dengan mudah ditangkap oleh Silahisabungan, karena sudah lelah. Raja Parultop yang memperhatikan burung elang itu kembali dan hinggap dipantai Danau Silalahi, dia bertekat akan menangkap burung elang itu hidup atau mati, walaupun hari sudah senja. Raja Parultep segera menuruni bukit Silalahi dan terus mencari kemana hinggapnya burung elang itu.

Raja Parultep terheranheran melihat seorang pemuda duduk diatas pondok sambil memengang burung elang yang disumpitnya. Dengan geram dan marah Raja Parultep berkata : “ Hei, siapa kamu yang berani tinggal ditanah milikku ini ? Aku adalah Raja Pakpak yang berkuasa sampai ke pantai danau ini. Kemarikan burung elang yang kau pegang itu, kau harus dihukum dan diusir dari tempat ini, “ katanya.

Silahisabungan menduduki seonggok tanah yang dibawa dari Balige dan mengambil air yang dibawa dari Mual Sigutti, lalu dengan sopan santun dan penuh wibawa, ia menjawab : “ Raja Pakpak yang mulia, saya tidak bersalah, ucapan raja yang mengada-ngada. Saya berani sumpah, bahwa tanah yang saya duduki ini adalah tanahku dan air yang saya minum ini adalah airku, “ lalu Silahisabungan meneguk air dari kendi ( tabu-tabu ) yang dibawanya dari Mual Sigutti. Silahi sabungan lalu turun dan memberi salam ke Raja Parultep dengan hormat dan memperkenalkan diri.

Mendengar ucapan Silahi sabungan dan tutur katanya yang menawan, amarah Raja Parultep jadi hilang dan menjawab dengan ramah : “ Goarmu sude jolma baua mamboan, goarhu pe denggan mapaboaon, I ma ulaulangku ari-ari marga Padangbatangari na domu tu marga Pasaribu “, katanya. (namamu sebagaimana laki-laki, baiklah aku juga akan memeritahukan namaku yaitu sama seperti apa yang kulakukan setiap hari – berburu dengan sumpit ( bhs. Pakpak : parultep ) marga Padang batangari, sepadan dengan Pasaribu ).

Kemudian Silahisabungan berkata :” Horas ma tulang,ai inongku pe boru Pasaribu do ”, ( horas Tulang, ibuku juga boru Pasaribu ) sambil mempersilahkan Raja Parultep naik ke pondokannya karena hari sudah mulai gelap. Ajakan Silahi sabungan dengan senang hati diterimanya dan mereka dapat bercengkrama sampai larut malam. Dalam percakapan mereka Raja Parultop menanyakan keberadaan keluarga Silahisabungan. Dijawabnya bahwa ia belum beristeri. Mendengar tutur kata Silahi sabungan nan sopan lagi santun, diam-diam Raja menaruh simpati dan ingin bermenantukan Silahi sabungan, Raja Parultep lalu berkata : “ Aku mempuyai putri 7 orang, kesemuanya sudah anak gadis. Jikalau kau berkenan menjadi menantuku besok kita pergi ke Balla. Pilihlah salah satu putriku untuk menjadi istrimu, dengan syarat tidak boleh dimadu ( na so marimbang ) sepanjang hidupmu “. Mendengar ajakan raja, Silahi sabungan menyambut dengan senang hati. Lalu Silahisabungan menjawab : “ Mana mungkin saya berani ke Balla jikalau tidak memenuhi adat istiadat, sedang aku hanya sebatangkara. Kumohon , Pamanlah membawa paribanku itu kemari, supaya disini aku pilih “.

Alasan Silahi sabungan masuk akal Raja Parultep, akhirnya menerima permintaan Silahi sabungan. Kemudian mereka menetapkan hari dan tanggal pertemuan sekaligus perkawinannya, lalu mereka sama-sama minta tidur karena sudah lelah sepanjang hari. Silahi sabungan tidak dapat tidur semalam-malaman memikirkan dan membayangkan putri Raja Parultep. Bagaimana cara memilihnya jikalau benar ada 7 orang putri raja. Diam-diam Silahisabungan membuka Laklak Tumbaga Holing, untuk melihat petunjuk. Dalam petunjuk terlihat putri raja hanya satu, lalu mengapa dikatakan 7 orang ?

Rupanya Raja Parultep pun tidak tidur sepanjang malam itu. Dengan berpura-pura tidur, Raja Parultep mengintip gerak-gerik Silahisabungan. Diketahuilah bahwa Silahi sabungan adalah orang sakti, bukan sembarang orang. Keesokanharinya Silahi sabungan memberangkatkan Raja Parultep pulanng ke Balla dengan oleh-oleh ikan Batak. Silahisabungan berkata : ” Jikalau rombongan Paman datang terlebih dahulu, nyalakan api diatas bukit sana dan kemudian akan saya nyalakan api dibawah ini tanda saya sudah siap menyambut Paman “. Setelah sepakat akan perjanjian mereka, Raja Parultep lalu pulang ke Balla dengan membawa banyak oleh-oleh Ikan Batak.

21
Jan
10

SILAHI SABUNGAN , RAJA SILALAHI NABOLAK , DAIRI

SILAHI SABUNGAN ,  salah seorang putra Sorbani Banua lahir dan besar Lumban Gorat Balige (Toba) dan tinggal Silalahi Nabolak (Dairi) sampai pada akhir hayatnya. Meski ia menetap di Dairi, Silahi Sabungan adalah keturunan Toba, seperti Sibagot nipohan, kakaknya.  Silahi Sabungan terkenal seorang “Datu Bolon“ dan termansyur.  Setelah mengadakan Horja Bius di Silalahi Nabolak, untuk menetapkan tanah kepunyaannya kepada 8 keturunanya dan Silahi Sabungan sebagai Raja Bius. Silahi Sabungan kemudian panggil dengan Raja Silahi Sabungan.

Silahi Sabungan memiliki keturunan yang banyak dan sebagai Raja (Kepala Kaum) ia telah menetapkan tanah miliknya untuk semua keturunannya.

HORJA BIUS SILALAHI NABOLAK

Horja Bius adalah perhelatan sosial tertinggi dalam kultur suku Toba. Horja Bius hanya dilakukan oleh orang yang memiliki martabat Status sosial, kapasitas dan intregitas. Horja Bius Silalahi Nabolak menggambarkan posisi Raja Silahi Sabungan di Silalahi Nabolak, sebagai sipungka huta sekaligus penguasa wilayah Silalahi Nabolak. Meski dalam masa kolonialis Belanda mewariskan admistratif bahwa Silalahi Nabolak masuk dalam teritori Dairi ( sekarang menjadi Kec. Silahi Sabungan, Kab. Dairi ), bukan berarti bahwa Raja Silahi Sabungan sebagai orang Pakpak Dairi atau bukan orang yang berasal dari Suku Toba. Sebagaimana kakak-adik sekandungnya, Sibagotni pohan, Siraja Oloan, Sipaittua, yang terlahir dan besar di Toba, Balige.

Sebagai Raja Bius yang bermartabat , Raja Silahi Sabungan telah mewariskan kultur budaya dan tanah-air bagi keturunanya. Sehingga keturunannya memiliki martabat, garis keturunan dan negeri asal yang jelas. Hal ini adalah kebiasaan yang dilakukan marga-marga lain suku Toba.

MUAL SIPAULAK HOSA (TURI-TURIAN)

Salah satu dari turi-turian itu adalah Kisah terjadinya sumber air (pancuran) Mual Sipaulak Hosa di lereng bukit Silalahi Nabolak (Dairi). Pada suatu hari Silahi Sabungan pergi bersama istrinya, Pinggan Matio boru Padang Batangari, ke mertuanya di huta (kampung) Balla, Pakpak.. Sewaktu melewati lereng bukit, isterinya yang sudah hamil tua mulai merasa dahaga. Rasa penat mulai terasa, sehingga mereka harus melepas lelah dilereng bukit. Dengan menahan rasa haus dan lelah, Pinggan Matio bersenandung lirih : “ Loja ma boruadi mamboan tua sian mulajadi, mauas ma tolonan ndang adong mangubati. Jonok do berengon sillumalan na so dundungonki. Boha do parsahatku tu huta ni damang parsinuan, dainang pangintubu i.”

Mendengar senandung istrinya, Silahi Sabungan lalu mengambil Siorlombing (tombak), lalu berdoa kepada Mulajadi Nabolon agar diberikan air. Kemudian Silahi Sabungan menancapkan Siorlombing (tombak) ke dinding batu tebing dan air menyembur dengan deras. Pinggan Matio lalu diminum sepuas-puasnya. Sampai saat ini, air itu dinamai ”Mual Sipaulak hosa” yang terdapat dilereng bukit Silalahi Nabolak.

Raja Silahi Sabungan memiliki 2 istri dan 8 putra dan 1 putri. Namun putrinya, bernama Deang Namora, konon mati muda dan tidak sempat memiliki keturunan. Sementara putra-putra Silahi Sabungan juga dikenal dengan sebutan 8 Raja Turpuk. Cikal bakal keseluruhan marga-marga keturunan Raja Silahi Sabungan menginduk kepada 8 Raja Turpuk ini, berikut ini urutannya :

1] LOHO RAJA (KETURUNANNYA MEMAKAI MARGA SIHALOHO)

Melihat kondisi kehamilan Pingganmatio, Raja Parultep (ayah Pinggan Matio) lalu menyarankan supaya putrinya tinggal di Balla sampai kelahiran anaknya.Tiba waktunya melahirkan, Pinggan Matio melahirkan seorang anak Laki – laki.  Silahi Sabungan merasa gembira dan bersyukur karena dia sudah menjadi seorang ayah. Begitu juga Raja Parultep merasa berbahagia karena kelahiran cucu dari putrinya Pinggan Matio. Raja Parultep mengundang raja-raja kampung dan penduduk Balla untuk merayakan kelahiran cucunya. Kemudian Raja Parultep memberi nama cucunya si Loho, artinya lega. Kemudian dikenal dengan Loho Raja. Di Silalahi Nabolak, keturunannya kemudian memakai marga Sihaloho atau Haloho.

2] TUNGKIR RAJA (KETURUNANYA MEMAKAI MARGA SITUNGKIR, SIPANGKAR DAN SIPAYUNG )

Suatu ketika, Raja Parultep merasa kangen dengan putri dan cucunya. Raja Parultep kemudian pergi ke kampung Lahi (sekarang menjadi Silalahi Nabolak) untuk melihat (tungkir=tingkir). Setibanya disana, tiba waktunya Pinggan Matio melahirkan putranya yang ke dua. Raja Parultep kemudian memberinya nama Tungkir Raja. Di Silalahi Nabolak, keturunan Tungkir Raja kemudian memekai marga Situngkir. Namun keturunan Situngkir di Parbaba Samosir kemudian menurunkan marga keturunannya , yaitu marga Sipangkar dan Sipayung. Keturunan Sipayung yang merantau ke Simalungun tetap memakai marga Sipayung sebagai marga. Tetapi berbeda di Tanah Karo, konon keturunan Sipangkar dan Sipayung kemudian berafiliasi dengan merga Sembiring, yaitu Sembiring Sinupangkar dan Sinupayung. Konon kemudian ada juga keturunan Silalahi dan Sihaloho yang kemudian menjadi Sembiring Sinulaki dan Keloko, Depari, dll.

3] SONDI RAJA (KETURUNANNYA MEMAKAI MARGA RUMA SONDI, RUMASINGAP, SILALAHI, SIHALOHO, SINABUTAR, SINABANG, SINAGIRO, NAIBORHU, NADAPDAP, SINURAT, DOLOK SARIBU )

Pada suatu ketika Silahi Sabungan sedang membuat tempat tidur dari kayu bulat (sondi). Tiba waktunya Pinggan Matio melahirkan putranya yang ke tiga. Silahi Sabungan kemudian memberinya nama Sondi Raja. Dari keturunan Sondi Raja terlahir marga Rumasondi dan Rumasingap. Dari keturunan Rumasondi adalah Bolon Raja dan Raja Parmahan alias Raja Bunga-bunga. Dari keturunanan Raja Parmahan yang kemudian menurunkan marga Silalahi di Hinalang Silalahi , Balige. Dari Keturunan Silalahi kemudian menurunkan marga : Sihaloho, Sinagiro, Sinabang, Sinabutar, Naiborhu, Sinurat, Nadapdap dan Dolok Saribu ( link: Punguan Sinurat).  Namun ada juga yang kemudian diantara mereka memakai marga Silalahi.

 4] BUTAR RAJA ( KETURUNANNYA MEMAKAI MARGA SIDABUTAR ).

Kemudian Pinggan Matio melahirkan anak kelima, seorang anak laki – laki. Pada waktu kelahiran anak kelima ini, raja Silahisabungan baru mengganti atap rumah yang terbuat dari kayu butar. Oleh karena itu mereka membuat nama anak kelima ini Butar Raja. Dari keturunanan Butar Raja ialah Rima Bolon, Ruma Biak dan Ruma Tungkup. Namun diantara keturunannya sekarang ini juga ada yang memamakai marga Sidabutar atau Silalahi.

5] BARIBA RAJA ( KETURUNANNYA MEMAKAI MARGA SIDABARIBA).

Pada waktu kelahiran anak keenam, Raja Silahi Sabungan sedang berada di Parbaba Samosir untuk mencari tanah kosong menjadi milik keturunannya kelak. Tanah itu kemudian disebut “ Luat Parbaba.” Setelah Raja Silahi Sabungan kembali dari seberang (bariba) dijumpainya telah lahir seorang anak laki-laki. Karena ia baru tiba dari Bariba (seberang) maka diberilah nama anak itu Bariba Raja. Keturunanan Sidabariba atau Sinabariba adalah Lumban Toruan, Lumban Tonga-tonga dan Lumban Raja. Saat ini, keturunan Bariba Raja memakai marga Sidabariba atau kemudian memakai marga Silalahi.

6] DEBANG RAJA ( KETURUNANYA MEMAKAI MARGA SIDEBANG )

Kelahiran anak Raja Silahisabungan yang ketujuh ditandai dengan terjadinya peristiwa alam. Pada saat Pinggan Matio melahirkan, turun hujan lebat sehingga terjadi tenah longsor ( tano bongbong ) di Silalahi Nabolak. Karena Tano Bongbong ( Tanah Longsor ) itu mengejutkan Raja Silahi Sabungan dan Pinggan Matio, maka mereka membuat nama anak laki – laki yang baru lahir itu Debong Raja = Debang Raja. Keturunannya ialah Siari, Sitaon, Sisidung yang memakai marga Sidebang. Ada juga diantaranya yang kemudian memakai marga Silalahi.

7] BATU RAJA (KETURUNANNYA MEMAKAI MARGA PINTUBATU, SIGIRO ).

PutraRaja Silahisabungan yang ke-7  bernama Batu Raja atau Pintu Batu. Pada waktu kelahiran anak bungsu Pinggan Matio ini, Raja Silahi Sabungan sedang bersemedi di Gua batu di lereng bukit Silalahi. Saat melahirkan itu, Pinggan Matio merasa lelah karena faktor usia, sehingga mengerang minta bantuan. Loho Raja yang melihat ibunya mengerang pergi mamanggil Raja Silahi Sabungan. Raja Silahi Sabungan buat obat salusu ( obat penambah tenaga ), Boru Pinggan Matio melahirkan seorang anak laki – laki. Karena Silahi Sabungan dipanggil dari Gua Batu maka diberilah nama anak itu Batu Raja atau Pintu Batu. Dengan kelahiran Batu Raja maka anak Raja Silahi Sabungan dari Pinggan Matio boru Padang Batanghari berjumlah delapan orang, tujuh orang anak laki-laki dan seorang puteri. Keturunan Batu Raja (Pintu Batu) ialah Lumban Pea, Huta Balian dan Sigiro. Umumnya mereka memakai marga Pintu Batu atau Sigiro dan kemudian ada juga yang memakai marga Silalahi.

8] TAMBUN RAJA ( KETURUNANNYA MEMAKAI MARGA TAMBUN DAN TAMBUNAN )

Konon turu-turiannya, Raja Silahi Sabungan tengah melanglangbuana ke negeri Sibisa, negeri Raja Magarerak ( yang turunannya kemudian memakai marga MANURUNG, SITORUS, BUTAR-BUTAR, PANJAITAN ). Raja Mangarerak tengah gundah kerena putri tersayangnya tengah mengalami sakit teluh yang sedemikian parah. Ketika Raja Silahi Sabungan datang, ia kemudian diminta mengobati Sang Putri Raja Mangarerak. Raja Silahi Sabungan bersedia dengan satu syarat, jika kelak sembuh maka raja Silahi Sabungan akan mengawininya sebagai istri. Tanpa pikir panjang, Raja Mangarerak menyetujuinya. Raja Silahi Sabungan ternyata berhasil menyembuhkan Sang Putri, sesuai kesepakatan maka Raja Silahi Sabungan kemudian memperistri Sang Putri, meski sebenarnya telah terpaut usia yang cukup jauh.

Konon juga, Sang Putri memanggil Raja Silai Sabungan dengan sebutan Amangboru, hal ini dikarenakan kesenjangan usia tersebut. Ketika Sang Putri tengah mengandung, prahara terjadi dan Raja Mangarerak meminta supaya Raja Silahi Sabungan segera meninggalkan negeri Sibisa. Dengan berat hati, Raja Silahi Sabungan menyepakati namun menunggu sampai Sang Putri melahirkan. Setelah melahirkan, Raja Silahi Sabungan kemudian memboyong sang bayi dan pergi meninggalkan Sibisa, kembali ke Silalahi Nabolak.

Di Silalahi Nabolak, sang anak kemudian diberi nama Tambun Raja. Saat menjelang dewasa, Tambun Raja kemudian kembali menemui Ibu yang melahirkannya di Sibisa. Dengan tujuan dan niat baik, Raja Silahi Sabungan kemudian membuat ikatan (padan) antara Tambun Raja dan 7 anak-anak Silahi Sabungan lainnya yang dikenal dengan PODA SAGU MARLANGAN. Tujuan Raja Silahi Sabungan inginkan supaya kelak diantara keturunan mereka supaya saling mengetahui bahwa mereka adalah sedarah, supaya kelak mereka saling menghormati dan tidak bisa untuk saling mengawini, sebagai mana kultur sosial suku Toba umumnya.

TAMBUN RAJA  ADALAH  RAJA TAMBUN

Di Sibisa , Tamburaja kemudian menikahi putri Raja Manurung. Tambunraja kemudian diberikan lahan untuk berdiam di Sibisa, sebagai Raja Boru di Bius Sibisa. Lain padang , lain belalang. Tambunraja kemudian dikenal dengan sebutan Raja Tambun, sebagai mana kebiasaan di Sibisa ( Toba Holbung ). Bahkan keturunannya , Tambun dan Tambunan juga mengenalnya dengan sebutan Raja Tambun. Namun di Silalahi Nabolak, kakak-kakakya tetap memperthanakan sebutan Tambunraja, sama seperti Raja Tupuk lainnya. Antara sebutan Tamburaja atau Raja Tambun adalah person yang sama. Ini sangat penting bagi kita keturunan Raja Silahi Sabungan, terutama keturunan Tanbun Raja atau Raja Tambun, yaitu marga Tambun dan Tambunan. Hanya memang, dampak dari keterpisahan ini, sejak Tambunraja menetap di sibisa, hubungan mereka antara Tambunraja alias Raja Tambun seolah terputus dengan kakak-kakanya di Silalahi Nabolak. Keturunan Raja Tambun di Sibisa tidak terlalu mengenal keturunanan Raja Silahi Sabungan lainnya dari Silalahi Nabolak. Beruntung dengan adanya Poda Sagu-sagu Marlangan, yang mengukuhkan kekerabatan darah 8 Raja Turpuk, antara Silalahi Nabolak dan Sibisa.

Ada kelompok  yang mengaku Silalahi Raja (Silahi Raja) mencoba mengail di air keruh, memanfaatkan situasi ini dan membuat seolah-olah keturunan Raja Tambun berbeda dengan Tambun Raja. Ini upaya pemecahbelahan dan pengkhianatan kelompok ini. Marga Silalahi adaah satu , yaitu keturunan dari 8 Raja Turpuk di Silalahi Nabolak yang awalnya dari Silalahi Nabolak dan merantau ke Balige, Tolping dan Pangururan, Samosir.

Horas.

12
Jan
10

FAKTA KEBERADAAN MARGA SILALAHI DI SAMOSIR

Fakta keberadaan marga Silalahi yang tinggal di Tolping dan Pangururan sebagai yang terdapat dalam turi-turian Raja Silahi Sabungan di Silalahi Nabolak adalah :

1. SIRAJA TOLPING , adalah keturunan Toguraja Sihaloho atau keturunan Partada anak Debangraja (Ompu Sinabang).

2. SIBURSOK RAJA , adalah anak Debangraja dari Silalahi Nabolak yang memilih namanya Ompu Sinabang atau kemudian bernama Ompu Lahisabungan, yang dimakamkan di Pangururan.

3. SIRAJA BUNGA-BUNGA , adalah keturunan Sondiraja dari Silalahi Nabolak Perlu ditambahkan bahwa menurut kebiasaan atau adat di Samosir, semua marga Silalahi selalu mengakui “ Bona Ni Pasogit “ Silalahi Nabolak. Hal ini membuktikan bahwa semua marga Silalahi yang tinggal di Pangururan atau Tolping juga berasal dari Silalahi Nabolak.

KEDUDUKAN MARGA SILALAHI DI BIUS PANGURURAN

Kedudukan marga Silalahi di Bius Pangururan adalah rendah, karena termasuk marga pendatang. Partano Golat atau penguasa / pemilik tanah adat Bius  Pangururan yang disebut Sitolu Hae Horbo adalah :

1. Marga Naibaho

2. Marga Sitanggang

3. Marga Simbolon

Dari ketiga marga  inilah kemudian terbentuk Raja Partali dari cabang tiap – tiap marga atau marga pendatang ( di Pangururan ) yang masuk bagian dalam marga penguasa Partano Golat , yaitu :

1. Dari marga Naibaho, dibentuk Raja Partali Naibaho : Siahaan, Hutaparik, Sitangkaraen, Sidauruk, dan Siagian.

2. Dari Marga Sitanggang, dibentuk Raja Partali : Sitanggang, Sigalingging, Malau, dan Sinurat.

3. Dari Marga Simbolon, dibentuk Raja Partali Simbolon : Tamba, Nadeak, dan Silalahi.

Hubungan kekerabatan marga Silalahi dengan marga Simbolon tingkatanya adalah rendah karena marga Silalahi adalah Boru Natua-tua dari Simboluntua saja, artinya tidak semua marga Simbolon memiliki hubungan margelleng (marboru) kepada marga Silalahi di Bius Pangururan.

KEBERADAAN MARGA SIHALOHO DI BIUS TOLPING

Kampung (huta) bius Tolping adalah:

1. Lumban Sihaloho

2. Lumban Sigiro

3. Lumban Parnomangan

4. Lumban Sidabutar

5. Lumban Silalahi

6. Lumban Dolok

7. Lumban Barat

8. Lumban Rihit

9. Lumban Siallagan

10. Lumban Siadang Aek

11. Lumban Parhorasan

12. Lumban Sinaborno 1

3. Lumban Tonga–tonga

14. Lumban Tinggi

15. Huta Tolping-tolping

16. Huta Siarsam Sada

17. Huta Siarsam Dua

18. Huta Siarsam Tolu

19. Lumban Batu

20. Sosor Galung

07
Jan
10

Tambun Raja atau Siraja Tambun

Tambun Raja atau Siraja Tambun :  satu sosok, dua gelar

Apul Rudolf Silalahi,s note :

Tanpa bertendensi mencari perhatian dan berharap simpati, sebelumnya penulis memohon maaf yang setulus-tulusnya kepada semua kalangan terutama keturunan Tambun Raja, dimana tanpa seizin dan terlebih dahulu memberitahukan Anggidoli sekalian, berani menuliskan cerita (turi-turian) ini dan menerbitkannya di grup atau kelompok ini.

Hal yang menjadi dasar pemikiran dan melatarbelakangi keberanian penulis dalam mengungkapkan ini adalah semata-mata disebabkan banyaknya kesimpang-siuran yang penulis lihat yang tertuang dan menjadi konsumsi orang banyak, seringnya peng-atas nama-an sang raja oleh oknum-oknum tertentu dengan maksud-maksud tertentu pula yang mana bagi penulis sudah membias dan menciptakan penyimpangan dari keadaan yang sebenarnya yang penulis pahami dan yakini . Sekaligus juga melalui tulisan singkat ini, penulis berharap semua pihak dapat menyadari letak persoalan yang sebenarnya, dimana tidak ada perbedaan antara pihak yang satu dengan lainnya dalam memandang sosok Tambun Raja / Siraja Tambun, terlebih lagi tidak melibatkan sang raja dalam polemic yang jelas-jelas tidak akan pernah berkesudahan, hanya demi membuat sebuah penegasan seolah-olah seseorang atau sebuah kelompok dapat mewakili kebesaran dan kemegahan sang raja beserta seluruh keturunannya.

TAMBUN RAJA DI SILALAHI NABOLAK

Singkat cerita sebagaimana diketahui melalui banyak kisah dan penuturan yang ada dalam berbagai versi yang intinya menyebutkan bahwa seorang anak laki-laki terlahir di Sibisa dari pasangan Raja Silahi Sabungan dan Milingiling boru Mangarerak yang kemudian dibawa oleh Raja Silahi Sabungan kembali ke daerah asalnya, Silalahi Nabolak,  meninggalkan ibunya karena situasi yang mengharuskan demikian. Kemudian anak laki-laki itu diberikan nama “Tambun”  dan tumbuh akil-balik bersama saudara-saudaranya di Silalahi Nabolak.  Selama di Silalahi Nabolak  tidak dapat dipungkiri bahwa memanglah sering terjadi pertengkaran antara Tambun dan saudara-saudaranya, yang mana akibat pertengkaran tersebut Tambun menyadari satu hal, yaitu sudah saatnya bagi dia untuk mengetahui cerita tentang dirinya yang sebenarnya.  Setelah mengetahui hal yang sebenarnya, lalu Tambun bertekad bahwa dia harus mencari dan menemui ibu kandungnya ke Sibisa. Hal ini tidak dapat dihalangi oleh seluruh keluarga besar Raja Silahi Sabungan , dimana disebutkan bahwa satu-satunya saudara perempuannya (sasada ibotona) pun sampai kehilangan nyawa demi mencegah kepergian Tambun dari Silalahi Nabolak.  Sebelum Tambun meninggalkan kampung halamannya untuk pergi dan mencari keberadaan ibu yang melahirkannya (pangintubu-na), Raja Silahi Sabungan mengumpulkan ke-delapan (8) anaknya dengan membuat sebuah upacara adat berupa penyampaian nasehat dan petuah yang harus ditaati oleh kedelapan anaknya beserta seluruh keturunannya kelak di kemudian hari. Upacara tersebut kemudian dinamakan Poda Sagu-Sagu Marlangan, sekaligus Raja  Silahi Sabungan menganugerahkan gelar raja ke masing-masing anaknya, yaitu : LOHO RAJA, TUNGKIR RAJA, SONDI RAJA, BUTAR RAJA, BARIBA RAJA, DEBANG RAJA, BATU RAJA dan TAMBUN RAJA, kemudian secara bersama mengikrarkan dan memahami serta berjanji mentaati semua isi dari Poda Sagu-Sagu Marlangan tersebut.. Oleh karena itu di kampung asalnya (Silalahi Nabolak), Tambun selalu disebutkan dengan TAMBUN RAJA dan Keturunannya (pomparanni) TAMBUN RAJA, sebagaimana tertulis di Poda Sagu-Sagu Marlangan demikian juga di Tugu/Makam Raja Silahi Sabungan. Dan sampai saat ini hal tersebut tidak pernah menjadi masalah ataupun dipersoalkan, dimana setiap keturunan Tambun Raja yang datang berkunjung ke Silalahi Nabolak bahkan saat diadakannya Pesta Tugu, hingga diberlakukan setiap tahun, mereka selalu memahami penyebutan TAMBUN RAJA tersebut dan meng-amin-kannya (em ma tutu).

Selanjutnya Tambun Raja melakukan perjalanan dengan semua kesulitan dan kesukaran yang secara tegar dihadapi dan berhasil dilaluinya, hingga dia sampai di Sibisa dan bertemu muka dengan pangintubu-nya beserta seluruh keluarga besar tulangnya, Manurung.  Sebagaimana juga banyak dikisahkan melalui cerita dalam berbagai versi yang intinya menyatakan kemudian Tambun Raja menikahi pariban-nya, yaitu putri Manurung dan menetap di negeri Sibisa. Di Sibisa, Tamun Raja diangkat dan dianugerahi gelar rajadengan memberikan penyebutan SIRAJA TAMBUN, selanjutnya berketurunan di Toba Holbung dan sekitarnya. Oleh karena itu setiap marga-marga dan semua penghuni dan yang bermukim di Toba Holbung dan sekitarnya selalu memanggil dan menyebut TAMBUN dan keturunannya dengan sebutan Siraja Tambun dan keturunan Siraja Tambun.

Perlu penulis ungkapkan bahwa tradisi kekerabatan dan protokoler per-adat-an di wilayah Toba Holbung (porsea, laguboti, balige) memiliki perbedaan dengan yang ada dan berlaku di wilayah Samosir dan sekitarnya. Contoh perbedaan itu yang paling jelas kelihatan dan nyata adalah :

1. Penyematan gelar di wilayah Samosir dan sekitarnya umumnya diletakkan dibelakang nama, seperti : Sariburaja, Lohoraja, Muntetua dsb; sementara di wilayah Toba Holbung gelar diletakkan di depan nama, seperti : Raja Pangaribuan, Raja Parmahan, Tuan Dibangarna dsb; maka dari itu selanjutnya dan secara turun temurun Tambun Raja turut disebut menjadi Raja Tambun.

2. Kekerabatan di wilayah Samosir dan sekitarnya sangatlah teguh, dimana ada ketentuan tidak boleh saling kawin mengawini antara keturunan yang masih satu leluhur, contoh : Parna, Silahisabungan, Bor-bor dsb; sebaliknya di wilayah Toba Holbung sangat jamak ditemukan peristiwa saling kawin mengawini meskipun berasal dari satu leluhur, seperti : keturunan Toga Aritonang : Simaremare, Rajagukguk, Ompusunggu ; keturunan Tuan Somanimbil, antara : Siahaan, Simanjuntak, Hutagaol; Keturunan Nairasaon antara Sitorus, Manurung, Sirait, Butar-Butar, dsb.

Mengantisipasi hal seperti inilah,  salah satunya oleh Raja Silahi Sabungan dibuatkan Poda Sagu-Sagu Marlangan tersebut. Perbedaan ini perlu penulis ungkapkan demi memberi pengertian kepada mereka-mereka yang dalam keterbatasan wawasan dan kepolosan berpikir.

Perlu diketahui bahwa yang melakukan “padan raja” antara Tampubolon (pomparan Tuan Sihubil) dengan Raja Parmahan “Silalahi” (pomparan Raja Silahi Sabungan) di Balige. Diluar kedua klan tersebut, kalaupun ada “dengan alasan” kekerabatan, maka kemudian beberapa cabang marga keturunan Raja Silahi Sabungan turut mengikuti dan tunduk “padan raja” tersebut – dengan mengatakan “hahang” kepada Tampubolon -bahwa itu merupakan hal yang baik dan patut dicontoh, namun demikian tidaklah dapat dijadikan alasan untuk menggugat keturunan Raja Silahis Sbungan lainnya (diluar Raja Parmahan) untuk tidak mengikuti dan tunduk kepada padan tersebut.

Di Toba Holbung sendiri, keturunan Raja Silahi Sabungan – dari marga Tambun dan Tambunan – sudah jamak saling kawin-mengawini dengan pomparan Tampubolon. Dan ini tidak menyalahi padan sama sekali, karena seperti saya katakan bahwa padan raja tersebut hanya berlaku antara Raja Parmahan “Silalahi” dan Tampubolon, serta keturunan mereka. Sama juga seperti  Manurung sebagai hula-hula Tambun Raja. Namun kenyataan di Toba Holbung telah terjadi dimana Manurung berhula-hula ke keturunan Raja Silahi Sabungan.

Keterkaitan Tambun Raja ( serta keturunannya ) dengan Raja Parmahan “Silalahi” (serta keturunannya ) dalam semua situasi adat di wilayah Toba Holbung. Bahkan lebih dari itu dapatlah dikatakan kedua cabang keturunan Raja Silahi Sabungan tersebut saling menjaga kekerabatan dan saling menguatkan posisi satu dengan lainnya di wilayah dimana mereka adalah pendatang.

Sebagaimana juga diriwayatkan melalui berbagai turi-turian berdasarkan banyaknya versi, bahwa antara keturunan Tambun Raja dan keturunan Raja Parmahan “Silalahi” selalu saling tolong-menolong dan selalu menggunakan musyawarah setiap ada persoalan yang terjadi. Yang paling jelas adalah pengulangan kembali Poda Sagu-Sagu Marlangan antara kedua pihak yang dilakukan untuk menyelesaikan persoalan yang saat itu mengemuka. Dan kesepakatan yang mengharuskan keturunan Raja Parmahan “Silalahi”  kembali menggunakan marga Silalahi dan keturunan Tambun Raja kembali menggunakan marga Tambun ataupun Tambunan. PENUTUP Kesimpulan dari penuturan ini adalah bahwa Tambun Raja dan keturunannya adalah sosok yang sama meskipun dia disebutkan Siraja Tambun oleh saudara-saudaranya dan keturunan mereka yang berasal dari kampung asalnya Silalahi Nabolak, disebutkan juga Siraja Tambun oleh semua keturunannya dan segenap marga yang ada di wilayah yang dimukiminya di Toba Holbung. Hal ini bukanlah sebuah persoalan atau permasalahan yang perlu mendapatkan perhatian untuk mendapatkan penyelesaian. Tidak ada usaha penggantian nama atau mengubah nama dalam setiap penyebutan TAMBUN RAJA ataupun SIRAJA TAMBUN, karena sang raja memiliki nama lahir TAMBUN. Apalagi sampai mendramatisirnya seolah-olah hal tersebut adalah sesuatu yang mengerikan dan membahayakan. Perlu untuk kita semua memiliki kesatuan tekad untuk mengupayakan agar penyebutan TAMBUN RAJA ataupun SIRAJA TAMBUN tidak menimbulkan perpecahan di tengah-tengah keluarga besar keturunan Tambun Raja, bukan malah menciptakan persoalan seolah-olah keturunan Tambun Raja  dan keturunan Siraja Tambun adalah berbeda satu dengan lainnya. Terutama hal ini saya tujukan bagi keturunan abang-abangnya, dengan segala hormat saya mintakan kita untuk tidak memecah-belah dan membawa mereka terlibat kedalam setiap persoalan yang kita hadapi. Karena bagaimanapun persoalan yang ada ditengah-tengah mereka merupakan kewajiban kita untuk mendamaikannya. Dan sampai sejauh ini saya tidak melihat kita mampu dan bertindak untuk meredam persoalan yang ada ditengah-tengah keluarga besar keturunan Tambun Raja, untuk itu janganlah kita menciptakannya.

“Molo so boi padamehon unang ma pabadahon”. Akhir kata penulis menyadari bahwa tulisan ini jauh dari sempurna, dan masih memberikan banyak peluang untuk di-debat kusir-kan dan dipertanyakan. Untuk itu penulis mohon maaf, dan berharap semoga catatan ini bermanfaat untuk menggambarkan situasi yang sebenarnya dan untuk setiap gugatan yang akan ada penulis tidak akan menanggapinya demi menghindari polemik berkepanjangan. Hal ini sesuai dengan tujuan dan keinginan penulis yang mana menuliskan catatan ini untuk mampu mencegah dan menjadi sebuah peringatan bagi setiap orang dan setiap pihak yang mencoba-coba dengan segala cara dan demi keuntungan diri dan kelompoknya menyeret serta dan menciptakan dualisme dalam keluarga besar TAMBUN.

met-met ahu on, paias rohangkon sasada Ho Jesus donganhu tong-tong Lippo Cikarang, 09-January-2010 Apul Rudolf Silalahi




Follow

Get every new post delivered to your Inbox.